Menjadi Murid Yesus

 

Tahun 5776 adalah Tahun Yobel yaitu tahun pembebasan dimana akan terjadi penuaian jiwa besar-besaran ditengah-tengah goncangan sebelum kedatangan Tuhan Yesus diatas awan ( Rapture ) .

Sesuai tuntunan Tuhan melalui Gembala Rohani kita Pdt. DR. Ir. Niko Nyotorahardjo bahwa orang – orang  yang ada dalam penuaian jiwa besar-besaran nanti adalah :

1.       Orang-orang yang belum percaya kepada Tuhan Yesus kemudian menjadi orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus

2.       Orang-orang Kristen yang belum sungguh2 ( hidup secara duniawi ) menjadi orang2 Kristen yang sungguh2 .

3.       Orang-orang percaya yang akan diproses menjadi murid Yesus

Renungan bulan ini menekan pada point ke3 tentang orang2 percaya yang akan diproses menjadi murid Yesus.

 

Istilah umum yang digunakan untuk mengindentifikasi mereka yang telah menjadi pengikut Kristus adalah kata ‘murid’ (disciple) . Kata murid (mathetes) secara umum berarti ‘pelajar’ dalam pengertian menjadi murid seorang guru , namun menjadi murid Kristus memiliki arti yang lebih sekadar menerima pengajaranNya , karena hal itu menyangkut iman didalam Dia sebagai Juruselamat dan Tuhan , dan juga keharusan untuk tunduk sepenuhnya pada pengajaran-Nya .

Pemuridan adalah suatu respons terhadap panggilan Yesus , “IkutlahAku” (Matius 4 : 19 ; Lukas 5 : 28 ) . Kata “Ikut” adalah sebuah bentuk perintah yang menekankan bahwa panggilan tersebut adalah sebuah pengabdian yaitu komitmen jangka panjang untuk pemuridan Kristen dan untuk kehidupan baru dalam Yesus .

Pengabdian seperti ini mengharuskan kita orang percaya untuk terus menjadi seorang murid yang   belajar bagaimana untuk hidup dan menjadi semakin serupa denganNya ( 1Yohanes 2 : 6 ) .

Pemuridan mengingatkan kita bahwa cara kita menjalani kehidupan Kristen sangatlah penting dan dasar dari pemuridan adalah hubungan para murid dengan Yesus dan KerajaanNya . Tuhan Yesus menekankan bahwa setiap pohon yang baik akan menghasilkan buah yang baik( Matius 7 : 17-20 ) . Ini menyiratkan bahwa mereka yang hidup dalam persekutuan dengan-Nya akan menghasilkan buah yang memberikan mereka jaminan keselamatan kekal .

Seorang murid tidak hanya sekadar menerima undangan-Nya sekali saja lalu semuanya selesai tetapi seorang murid harus mengabdikan hidupnya untuk mengikut Dia , belajar dari Dia dan melakukan kehendak Bapa . Tidak ada jaminan bahwa pengalaman keselamatan mula-mula sudah cukup untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah saat Yesus datang kembali hanya ketekunan dalam kehidupan yang baru memberikan kita jaminan tersebut .

Ada tiga perumpamaan dari pengajaran Tuhan Yesus yang menekankan ketekunan untuk berpegang teguh pada iman dan memperingatkan tentang tindakan yang ceroboh dalam menanggapi firman yang diberitakan serta bahaya para murid bisa menjadi murtad yaitu

1.       Perumpamaan seorang Penabur – Lukas 8 : 9-15

Orang percaya yang tidak sungguh2 meninggalkan imannya tetapi orang percaya yang sejati tetap bertekun dalam imannya .

2.       Perumpamaan tentang Gadis2 yang Bijaksana dan Gadis2 yang Bodoh  – Matius 25 : 1-13

Semua orang Kristen seharusnya setia saat menantikan mereka menantikan kedatangan Kristus yang kedua . Ketaatan yang setia – ketekunan dalam iman adalah keharusan

3.       Perumpamaan tentang Hamba yang Setia dan Tidak Setia – Lukas 12 : 42-48

Tuhan berjanji member upah kepada hamba yang setia tetapi hamba yang sombong dan tidak setia ini akan dimintai pertanggungjawaban atas dosa-dosanya .

Seluruh perumpamaan ini dengan jelas menunjukkan bahwa orang percaya yang kurang bertekun dalam iman tidak akan siap bagi kedatangan Tuhan kembali , karena godaan dunia dan cobaan terhadap iman mereka , beberapa umat Tuhan jatuh dalam dosa .

Kemungkinan seperti ini memanggil kita murid-muridNya agar bertanggung jawab atas panggilanNya dan terus bertekun mempertahankan iman kita dalam menghadapi goncangan yang akan terjadi menjelang kedatangan Tuhan Yesus yang sudah sangat-sangat dekat .

Matius 24 : 13 “ Tetapi orang yang bertahan sampai kesudahannya akan selamat “

 

Dirangkum dari buku “ Jaminan Keselamatan Kekal yang Tak Bersyarat “ French L. Arrington , by Pdm. Tedjo Susanto